A. Pengertian aqidah
Aqidah adalah bentuk masdar dari kata “‘aqoda,
ya’qidu, ‘aqdan-‘aqidatan” yang berarti simpulan, ikatan, sangkutan, perjanjian
dan kokoh. Sedangkan secara teknis aqidah berarti iman, kepercayaan dan
keyakinan. Dan tumbuhnya kepercayaan tentunya di dalam hati, sehingga yang
dimaksud aqidah adalah kepercayaan yang menghujam atau tersimpul di dalam hati.
Sedangkan menurut istilah aqidah adalah hal-hal yang
wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa merasa tentram kepadanya, sehingga menjadi
keyakinan kukuh yang tidak tercampur oleh keraguan.
Menurut M Hasbi Ash Shiddiqi mengatakan aqidah menurut ketentuan bahasa (bahasa arab) ialah
sesuatu yang dipegang teguh dan terhujam kuat di dalam lubuk jiwa dan tak dapat
beralih dari padanya.
Dapun aqidah menurut Syaikh Mahmoud Syal tout adalah
segi teoretis yang dituntut pertama-tama dan terdahulu dara segala sesuatu
untuk dipercayai dengan suatu keimanan yang tidak boleh dicampuri oleh
syakwasangka dan tidak dipengaruhi oleh keraguan.
Aqidah atau keyakinan adalah suatu nilai yang paling asasi dan prinsipil
bagi manusia, sama halnya dengan nilai dirinya sendiri, bahkan melebihinya.
Sedangkan Syekh Hasan Al-Bannah menyatakan aqidah
sebagi sesuatu yang seharusnya hati membenarkanya sehingga menjadi ketenangan
jiwa, yang menjadikan kepercayaan berdih dari kebimbangan dan
keraguan-keraguan.
Adapun muatan-muatan aqidah atau
keimanan itu ialah percaya kepada allah, percaya kepada kitab-kitab-Nya,
percaya kepada nabi dan rasul-rasul-Nya, percaya kepada hari kiamat, serta
percaya kepada Qada dan Qdar. Muatan-muatan aqidah tersebut merupakan suatu
kesatuan yang tidak mungkin berubah oleh perubahan waktu dan tempat, juga tidak
berubah karena perbedaan masyarakat.
Muatan-muatan aqidah tersebut atau
yang biasanya disebut dengan rukun iman, adalah menjadi dasar bagi kehidupan
seorang muslim dengan tujuan utamanya adalah untuk membangun pondasi (dasar)
yang kokoh bagi kehidupan, dan mensucikan jiwa menuju kearah sifat-sifat yang
tinggi dan luhur.
Penanaman aqidah atau kepercayaan
di dalam jiwa seseorang merupakan cara yang tepat yang harus dilalui untuk
mendorong timbulnya unsur-unsur kebaikan yang menyempurnakan kehidupan, bahkan
akan memberikan saham yang banyak untuk membekali jiwa seseorang agar lebih
bermanfaat dan lebih sesuai dengan petunjuk Tuhan.
Aqidah yang benar itu merupakan ruh
bagi kehidupan setiap orang. Dengan berpegang teguh pada aqidah tersebut,
manusia akan hidup dalam keadaan yang lebih baik. Tetapi kalau meninggalkan
aqidah yang benar, maka sesemangat kerohanian menjadi mati dan kering. Oleh
karena itu, aqidah ibarat cahaya yang akan menerangi kegelapan. Sebaliknya
apabila aqidah (kepercayaan) yang dianutnya tidak benar, maka manusia akan
tersesat dalam liku-liku kehidupan malah akan terjerumus dalam lembah-lembah
kesesatan yang amat dalam.
Dalam surat al-an’am, ayat 22
diterangkan :
tPöqtur öNèdçà³øtwU $YèÏHsd §NèO ãAqà)tR tûïÏ%©#Ï9 (#þqä.uõ°r&
tûøïr& ãNä.ät!%x.uà° tûïÏ%©!$# öNçFZä. tbqßJãã÷s? ÇËËÈ
22. Dan (ingatlah), hari
yang di waktu itu kami menghimpun mereka semuanya[464] Kemudian kami Berkata
kepada orang-orang musyrik: "Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu
kamu katakan (sekutu-sekutu) kami?".
B. Pengertian akhlak
Akhlak secara etimologi berasal dari kata “khuluq”
dan jama’nya “akhlaq”, yang berarti budi pekerti, etika, moral. Demikian pula
kata “khuluq” memiliki kesesuaian dengan “khilqun”, hanya saja khuluq merupakan
perangai manusia dari dalam diri (ruhaniah) sedangkan khilqun merupakan
perangai manusia dari luar (jasmani).
Ibnu Maskawaih dalam bukunnya “Tahdzibul Akhlak Wa
That-hirul A’raq” mendefinisan akhlak dengan keadaan gerak jika yang mendorong
ke arah melakuakan perbuatan dengan tidak memerlukan pikiran.
Akhlak adalah “sikap hati yang mudah mendorong
anggota tubuh untuk berbuat sesuatu”.
Menurut Prof. Dr ahmad Amin, yang disebut akhlak itu
ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya kehendak itu bila membiassakan sesuatu,
maka kebiasaan itulah yang dinamakan akhlak. Dalam penjelasan beliau, kehendak
ialah ketentuan dari beberapa keinginan sesudah bimbang, sedangkan kebiasaan
adalah perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah dikerjakan. Jika apa yang
bernama kehendak itu dikerjakan berulang kali sehingga menjadi kebiasaan, maka
itulah yang kemudian berproses menjadi akhlak.
Ajaran islam adalah ajaran yang bersumber pada wahyu
allah, Al-Qur’an dalam penjabarannya terdapat pada hadis Nabi Muhammad SAW.
Masalah akhlak dalam Islam mendapat perhatian yang sangat besar. Konsep akhlak
menurut Al-Ghazali adalah sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang, darinya
lahir perbuatan yang mudah tanpa pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Aklhak
meliputi jangkauan yanga sangat luas dalam segala aspek kehidupan. Aklhak
meliputi hubungan hamba dengan Tuhannya (vertikal) dalam bentuk ritual
keagamaan dan berbentuk pergaulan sesama manusia (horizontal) dan juga sifat
serta sikap yang terpantul terhadap semua makhluk (alam semesta).
Bagi seorang muslim akhlak yang terbaik ialah
seperti yang terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW karena sifat-sifat dan
perangai yang terdapat pada dirinya adalah sifat-sifat yang terpuji dan
merupakan uswatun hasanah yaitu contoh teladan terbaik bagi seluruh kaum
muslim. Allah SWT sendiri memuji akhlak Nabi Muhammad SAW didalam Al-Quran
sebagaimana firman-Nya:
Surah Al-Qalam ayat 4
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OÏàtã ÇÍÈ
4. Dan
Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Akhlak-akhlak baik (mahmudah) meliputi: ikhlas,
sabar, syukur, khauf (takut kemurkaan Allah), Roja’ (mengharap keridhaan
Allah), jujur, adil, amanah, tawadhu (merendahkan diri sesama muslim),
bersyukur. Selain menjaga akhlak mahmudah, seorang muslim juga harus
menghindari akhlak mazmumah yang meliputi: tergesa-gesa, riya ( melakukan
sesuatu dengan tujuan ingin menunjukkan kepada orang lain), bakhil, buruk
sangka, tamak dan pemarah.
Prinsip akhlak dalam islam terletak pada Moral
Force. Moral Force akhlak islam adalah terletak pada iman sebagai Internal
Power yang dimiliki oleh setiap orang mukmin yang berfungsi sebagi motor
penggerak dan motivasi terbentuknya kehendak untuk merefleksikan dalam tata
rasa, tata karsa, yang kongkret. Dalam hubungan ini Abu Huroiroh meriwayatkan
hadist dari Rasulullah SAW:
“orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah
yang terbaik akhlaknya. Dan sebaik-baik diantara kamu ialah yang paling baik
kepada istrinya.”
Al-Quran menggambarkan bahwa setiap orang yang
beriman itu niscaya memiliki akhlak yang mulia yang diandaikan seperti pohon
iman yang indah hal ini dapat dilihat pada surat Ibrahim ayat 24:
öNs9r& ts? y#øx. z>uÑ ª!$# WxsWtB ZpyJÎ=x. Zpt6ÍhsÛ ;otyft±x. Bpt7ÍhsÛ $ygè=ô¹r&
×MÎ/$rO $ygããösùur Îû Ïä!$yJ¡¡9$# ÇËÍÈ
24. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah
Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik[786] seperti pohon yang baik,
akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
Dari ayat diatas dapat kita ambil contoh bahwa ciri
khas orang yang beriman adalah indah perangainya dan santun tutur katanya,
tegar dan teguh pendirian (tidak terombang-ambing), mengayomi atau melindungi
sesama, mengajarkan buah amal yang dapat dinikmati oleh lingkungan.
C. Pengertian Aqidah akhlak
Pengertian aqidah akhlak sendiri sangatlah luas,
namun, dari pengertian sebelumnya maka dapat kita simpulkan bahwa aqidah akhlak
merupakan kepercayaan yang diyakini kebenarannya didalam hati, yang diikrarkan
dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan yang terpuji sesuai dengan ajaran
Al-Quran dan Hadist.
Aqidah akhlak merupakan hal yang tidak dapat
dipisahkan. Maka menjaga aqidah akhlak merupkan hal yang penting bagi kita.
Hal-hal yang dapat kita lakukan antara lain dengan mempelajari ilmu-ilmu yang
menyangkut aqidah akhlak, hal-hal yang dapat merusak aqidah akhlak dan
mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari.
Dengan demikian pendidikan aqidah akhlak adalah
upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal,
memahami, menghayati dan mengimani Allah SWT dan merealisasikannya dalam
prilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari bedasarkan Quran dan Hadist
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.
Dibarengi tuntunan untuk menghormati pengenut agama lain dan hubungannya dengan
kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan
persatuan bangsa.
Sedangkan pendidikan aqidah akhlak menurut Moh.
Rifai adalah sub mata pelajaran pada jenjang pendidikan dasar yang membahas
ajaran agama islam dalam segi aqidah dan akhlak. Mata pelajaran aqidah akhlak
juga merupakan bagian dari mata pelajaran pendidikan agama islam yang
memberikan bimbingan kepada siswa agar memahami, menghayati, meyakini kebenaran
ajaran islam, serta bersedia mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dari berbagai pendapat di atas meskipun terjadi
perbedaan dalam memformulasikannya namun pada hakekatnya yang membuat rumusan
itu mempunyai titik tekan yang sama tentang apa pendidikan aqidah akhlak itu
sendiri. Yang mana pendidikan aqidah akhlak merupakan suatu sarana pendidikan
agama islam yang didalamnya terdapat bimbingan dari pendidk kepada peserta
didik agar mereka mampu memahami, menghayati, dan meyakini kebenaran ajaran
agama islam, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.namun yang
lebih penting, mereka dapat terbiasa melakukan perbuatan dari hati nurani yang
ikhlas dan spontan tanpa harus menyimpang dari Al-Quran dan Hadist.
DAFTAR
PUSTAKA
Dra. Nurasmawi, M.Pd. 2004. Aqidah Tauhid. Pekan baru;Propinsi Riau.
Ibrahim, S.Pd.i. 2010. Diktat Aqidah dan Akhlak. Pekan
baru;Propinsi Riau.
Dr. Rosihon Anwar, M.Ag.
2008. Aqidah Akhlak. Bandung; CV.
Pustaka Setia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar