Rabu, 07 Mei 2014

makna aqidah dan akhlak



MAKNA AQIDAH DAN AKHLAK

A. Pengertian aqidah
Aqidah adalah bentuk masdar dari kata “‘aqoda, ya’qidu, ‘aqdan-‘aqidatan” yang berarti simpulan, ikatan, sangkutan, perjanjian dan kokoh. Sedangkan secara teknis aqidah berarti iman, kepercayaan dan keyakinan. Dan tumbuhnya kepercayaan tentunya di dalam hati, sehingga yang dimaksud aqidah adalah kepercayaan yang menghujam atau tersimpul di dalam hati.
Sedangkan menurut istilah aqidah adalah hal-hal yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa merasa tentram kepadanya, sehingga menjadi keyakinan kukuh yang tidak tercampur oleh keraguan.
Menurut M Hasbi Ash Shiddiqi mengatakan aqidah  menurut ketentuan bahasa (bahasa arab) ialah sesuatu yang dipegang teguh dan terhujam kuat di dalam lubuk jiwa dan tak dapat beralih dari padanya.
Dapun aqidah menurut Syaikh Mahmoud Syal tout adalah segi teoretis yang dituntut pertama-tama dan terdahulu dara segala sesuatu untuk dipercayai dengan suatu keimanan yang tidak boleh dicampuri oleh syakwasangka dan tidak dipengaruhi oleh keraguan.
Aqidah atau keyakinan adalah  suatu nilai yang paling asasi dan prinsipil bagi manusia, sama halnya dengan nilai dirinya sendiri, bahkan melebihinya.
Sedangkan Syekh Hasan Al-Bannah menyatakan aqidah sebagi sesuatu yang seharusnya hati membenarkanya sehingga menjadi ketenangan jiwa, yang menjadikan kepercayaan berdih dari kebimbangan dan keraguan-keraguan.
Adapun muatan-muatan aqidah atau keimanan itu ialah percaya kepada allah, percaya kepada kitab-kitab-Nya, percaya kepada nabi dan rasul-rasul-Nya, percaya kepada hari kiamat, serta percaya kepada Qada dan Qdar. Muatan-muatan aqidah tersebut merupakan suatu kesatuan yang tidak mungkin berubah oleh perubahan waktu dan tempat, juga tidak berubah karena perbedaan masyarakat.
Muatan-muatan aqidah tersebut atau yang biasanya disebut dengan rukun iman, adalah menjadi dasar bagi kehidupan seorang muslim dengan tujuan utamanya adalah untuk membangun pondasi (dasar) yang kokoh bagi kehidupan, dan mensucikan jiwa menuju kearah sifat-sifat yang tinggi dan luhur.
Penanaman aqidah atau kepercayaan di dalam jiwa seseorang merupakan cara yang tepat yang harus dilalui untuk mendorong timbulnya unsur-unsur kebaikan yang menyempurnakan kehidupan, bahkan akan memberikan saham yang banyak untuk membekali jiwa seseorang agar lebih bermanfaat dan lebih sesuai dengan petunjuk Tuhan.
Aqidah yang benar itu merupakan ruh bagi kehidupan setiap orang. Dengan berpegang teguh pada aqidah tersebut, manusia akan hidup dalam keadaan yang lebih baik. Tetapi kalau meninggalkan aqidah yang benar, maka sesemangat kerohanian menjadi mati dan kering. Oleh karena itu, aqidah ibarat cahaya yang akan menerangi kegelapan. Sebaliknya apabila aqidah (kepercayaan) yang dianutnya tidak benar, maka manusia akan tersesat dalam liku-liku kehidupan malah akan terjerumus dalam lembah-lembah kesesatan yang amat dalam.
Dalam surat al-an’am, ayat 22 diterangkan :

tPöqtƒur öNèdçŽà³øtwU $YèŠÏHsd §NèO ãAqà)tR tûïÏ%©#Ï9 (#þqä.uŽõ°r& tûøïr& ãNä.ät!%x.uŽà° tûïÏ%©!$# öNçFZä. tbqßJãã÷s? ÇËËÈ
22.  Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu kami menghimpun mereka semuanya[464] Kemudian kami Berkata kepada orang-orang musyrik: "Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu katakan (sekutu-sekutu) kami?".
B. Pengertian akhlak
Akhlak secara etimologi berasal dari kata “khuluq” dan jama’nya “akhlaq”, yang berarti budi pekerti, etika, moral. Demikian pula kata “khuluq” memiliki kesesuaian dengan “khilqun”, hanya saja khuluq merupakan perangai manusia dari dalam diri (ruhaniah) sedangkan khilqun merupakan perangai manusia dari luar (jasmani).
Ibnu Maskawaih dalam bukunnya “Tahdzibul Akhlak Wa That-hirul A’raq” mendefinisan akhlak dengan keadaan gerak jika yang mendorong ke arah melakuakan perbuatan dengan tidak memerlukan pikiran.
Akhlak adalah “sikap hati yang mudah mendorong anggota tubuh untuk berbuat sesuatu”.
Menurut Prof. Dr ahmad Amin, yang disebut akhlak itu ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya kehendak itu bila membiassakan sesuatu, maka kebiasaan itulah yang dinamakan akhlak. Dalam penjelasan beliau, kehendak ialah ketentuan dari beberapa keinginan sesudah bimbang, sedangkan kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah dikerjakan. Jika apa yang bernama kehendak itu dikerjakan berulang kali sehingga menjadi kebiasaan, maka itulah yang kemudian berproses menjadi akhlak.
Ajaran islam adalah ajaran yang bersumber pada wahyu allah, Al-Qur’an dalam penjabarannya terdapat pada hadis Nabi Muhammad SAW. Masalah akhlak dalam Islam mendapat perhatian yang sangat besar. Konsep akhlak menurut Al-Ghazali adalah sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang, darinya lahir perbuatan yang mudah tanpa pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Aklhak meliputi jangkauan yanga sangat luas dalam segala aspek kehidupan. Aklhak meliputi hubungan hamba dengan Tuhannya (vertikal) dalam bentuk ritual keagamaan dan berbentuk pergaulan sesama manusia (horizontal) dan juga sifat serta sikap yang terpantul terhadap semua makhluk (alam semesta).
Bagi seorang muslim akhlak yang terbaik ialah seperti yang terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW karena sifat-sifat dan perangai yang terdapat pada dirinya adalah sifat-sifat yang terpuji dan merupakan uswatun hasanah yaitu contoh teladan terbaik bagi seluruh kaum muslim. Allah SWT sendiri memuji akhlak Nabi Muhammad SAW didalam Al-Quran sebagaimana firman-Nya:
Surah Al-Qalam ayat 4
y7¯RÎ)ur 4n?yès9 @,è=äz 5OŠÏàtã ÇÍÈ
4.  Dan Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Akhlak-akhlak baik (mahmudah) meliputi: ikhlas, sabar, syukur, khauf (takut kemurkaan Allah), Roja’ (mengharap keridhaan Allah), jujur, adil, amanah, tawadhu (merendahkan diri sesama muslim), bersyukur. Selain menjaga akhlak mahmudah, seorang muslim juga harus menghindari akhlak mazmumah yang meliputi: tergesa-gesa, riya ( melakukan sesuatu dengan tujuan ingin menunjukkan kepada orang lain), bakhil, buruk sangka, tamak dan pemarah.
Prinsip akhlak dalam islam terletak pada Moral Force. Moral Force akhlak islam adalah terletak pada iman sebagai Internal Power yang dimiliki oleh setiap orang mukmin yang berfungsi sebagi motor penggerak dan motivasi terbentuknya kehendak untuk merefleksikan dalam tata rasa, tata karsa, yang kongkret. Dalam hubungan ini Abu Huroiroh meriwayatkan hadist dari Rasulullah SAW:
“orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya. Dan sebaik-baik diantara kamu ialah yang paling baik kepada istrinya.”
Al-Quran menggambarkan bahwa setiap orang yang beriman itu niscaya memiliki akhlak yang mulia yang diandaikan seperti pohon iman yang indah hal ini dapat dilihat pada surat Ibrahim ayat 24:
öNs9r& ts? y#øx. z>uŽŸÑ ª!$# WxsWtB ZpyJÎ=x. Zpt6ÍhŠsÛ ;otyft±x. Bpt7ÍhsÛ $ygè=ô¹r& ×MÎ/$rO $ygããösùur Îû Ïä!$yJ¡¡9$# ÇËÍÈ
24.  Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik[786] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

Dari ayat diatas dapat kita ambil contoh bahwa ciri khas orang yang beriman adalah indah perangainya dan santun tutur katanya, tegar dan teguh pendirian (tidak terombang-ambing), mengayomi atau melindungi sesama, mengajarkan buah amal yang dapat dinikmati oleh lingkungan.

C. Pengertian Aqidah akhlak
Pengertian aqidah akhlak sendiri sangatlah luas, namun, dari pengertian sebelumnya maka dapat kita simpulkan bahwa aqidah akhlak merupakan kepercayaan yang diyakini kebenarannya didalam hati, yang diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan yang terpuji sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Hadist.
Aqidah akhlak merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Maka menjaga aqidah akhlak merupkan hal yang penting bagi kita. Hal-hal yang dapat kita lakukan antara lain dengan mempelajari ilmu-ilmu yang menyangkut aqidah akhlak, hal-hal yang dapat merusak aqidah akhlak dan mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari.
Dengan demikian pendidikan aqidah akhlak adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati dan mengimani Allah SWT dan merealisasikannya dalam prilaku akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari bedasarkan Quran dan Hadist melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. Dibarengi tuntunan untuk menghormati pengenut agama lain dan hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
Sedangkan pendidikan aqidah akhlak menurut Moh. Rifai adalah sub mata pelajaran pada jenjang pendidikan dasar yang membahas ajaran agama islam dalam segi aqidah dan akhlak. Mata pelajaran aqidah akhlak juga merupakan bagian dari mata pelajaran pendidikan agama islam yang memberikan bimbingan kepada siswa agar memahami, menghayati, meyakini kebenaran ajaran islam, serta bersedia mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dari berbagai pendapat di atas meskipun terjadi perbedaan dalam memformulasikannya namun pada hakekatnya yang membuat rumusan itu mempunyai titik tekan yang sama tentang apa pendidikan aqidah akhlak itu sendiri. Yang mana pendidikan aqidah akhlak merupakan suatu sarana pendidikan agama islam yang didalamnya terdapat bimbingan dari pendidk kepada peserta didik agar mereka mampu memahami, menghayati, dan meyakini kebenaran ajaran agama islam, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.namun yang lebih penting, mereka dapat terbiasa melakukan perbuatan dari hati nurani yang ikhlas dan spontan tanpa harus menyimpang dari Al-Quran dan Hadist.

DAFTAR PUSTAKA
Dra. Nurasmawi, M.Pd. 2004. Aqidah Tauhid. Pekan baru;Propinsi Riau.
Ibrahim, S.Pd.i. 2010. Diktat Aqidah dan Akhlak. Pekan baru;Propinsi Riau.
Dr. Rosihon Anwar, M.Ag. 2008. Aqidah Akhlak. Bandung; CV. Pustaka Setia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar